gallery/g_
gallery/fb_icon
gallery/instagramlogo
gallery/become-a-coach-ebanner4

marketing 'narsis' : Strategi bisnis dengan kepercayaan instant

Oleh Ari Nugrahanto - 24 November 2016

Melihat dan merasakan fenomena di jaman era teknologi digital ini membuat diri kita sendiri menjadi seolah harus mau tidak mau mengikuti kebiasaan untuk selalu memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya kepada khalayak umum. Dulu seingat saya,ketika saya masih duduk di sekolah menengah atas, untuk mencari tahu informasi tentang teman sendiri dengan berkenalan langsung dan mengetahui alamat rumahnya ketika sudah kenal selang berapa lama dengan teman kita itu. Apalagi untuk menawarkan atau menjual barang, kita harus langsung menawarkan,membuka toko atau memasang iklan di media dengan biaya yang tidak semua orang mampu membayarnya. Sekarang dengan hanya membuka akun sosial media yang paling banyak diikuti, secara otomatis kita bisa bertanya informasi detail dengan hanya mengirimkan pesan pribadi, menawarkan barang, member informasi, dan sampai sebaliknya orang lain bisa melihat semua identitas pribadi kita. Semua aktifitas tersebut tidak memerlukan biaya yang besar apabila dibandingkan dengan jaman saya masih sekolah dulu. Dengan hanya beberapa puluh ribu rupiah sekarang semua orang bisa melakukan semua kegiatan promosi  untuk kepentingan dirinya sendiri. Malah sekarang banyak bisnis yang menawarkan jasa pembuatan toko secara maya atau online lengkap dengan proses jual beli-nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pengakuan sosial yang akan membawa dirinya kepada suatu kepercayaan publik. Unsur kepercayaan tersebut yang banyak dimanfaatkan orang untuk akhirnya melakukan bisnis dan mulai memasarkan dan atau menjual produk yang mereka miliki. Jaman sekarang orang harus berani menonjolkan dirinya dan semakin menjadi ‘narsis’,ya itu adalah bahasa yang paling sering diucapkan sekarang ini dengan sebutan narsis = eksis.

 

Sedikit cerita sejarah mengenai  istilah narsis berawal dari mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan yang bernama Narsisus. Narsisus adalah putra dewa sungai, Cephissus. Pada saat itu Echo, seorang dewi yang tidak bisa berbicara, jatuh cinta kepadanya. Namun Narcisus bertindak kejam dan menolak cinta Echo. Pada suatu hari, Narsisus melewati sebuah danau yang sangat bening airnya dan melihat pantulan dirinya sendiri. Narsisus sangat mengagumi dan jatuh cinta pada pantulan itu. Narsisus sangat ingin menjamah dan memiliki wajah yang dilihatnya, tapi setiap kali mengulurkan tangannya untuk meraih pantulan itu, bayangan itu kemudian menghilang. Narsisus tetap menunggu di tepi danau untuk mendapatkan bayangan yang menjadi obyek kekagumannya sampai mau menceburkan dirinya sendiri ke dalam danau dan akhirnya mati.

 

Menurut Papu (2002) yang mengutip DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) orang yang narsistik akan mengalami gangguan kepribadian, gangguan kepribadian yang dimaksud adalah gangguan kepribadian narsisistik atau narcissistic personality disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain.

 

Lebih lanjut menurut Menurut Sadarjoen (2003) yang mengutip Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, ada lima penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.

 

Dari cerita dan teori diatas,narsisme itu adalah suatu yang berdampak atau berakhir negatif maka sejak dahulu saya masih ingat kalau orang tua kita mendidik untuk tidak terlalu banyak bicara tentang diri kita sendiri. Banyak yang selalu mengatakan ‘kami’ atau ‘kita’ meskipun itu adalah kata ganti dari ‘saya’. Kata ‘saya’ dinyatakan menjadi kata yang tabu karena berkesan menyombongkan diri sendiri. Sulit bagi yang tidak berubah ‘cetak-biru’-nya, mereka akan tetap berkata ‘kami’ atau ‘kita’ sebagai kata ganti ‘saya’.

 

Didalam dunia pemasaran atau marketing saat ini semua berjalan sangat cepat dengan hitungan detik dan menit bukan Jam atau hari lagi. Seperti kecepatan seseorang melakukan ‘update’ di seluruh jejaring media sosialnya.  Ini memaksa anda untuk segera merubah kata ‘kami’ atau ‘kita’ menjadi saya,saya dan saya. Ya, anda dulu yang terpenting dan mengerti apa yang bisa anda berikan kepada orang lain.

 

Kebutuhan akan informasi dan kepercayaan instant sangat sudah menjadi kebutuhan dasar di era serba digital. Pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang’ masih sangat berlaku di dunia marketing,cuma bedanya disini untuk kenal dengan seseorang hanya membutuhkan beberapa menit saja. Pertanyaannya adalah apakah kita mau menjadikan kata ‘narsis’ itu menjadi hal yang positif ? atau negatif ? sesuatu yang diterima sebagai ‘tools’ atau ‘alat’ untuk menjual diri anda sebelum menawarkan bisnis atau produk ? Jawabannya adalah secepat apa anda mau mencapai sebuah hasil ? hitungan Jam atau Menit ? atau detik ? Keputusan ada di diri anda sendiri. 

 

 

 

gallery/selfieman

Jaman sekarang tidak ada yang orang tidak bisa lakukan termasuk membuat orang bisa mengenal kita tanpa harus bertatap muka dan bersalaman sebelumnya. Semua bebas memberikan semua informasi yang kita inginkan dari hal paling sederhana sampai setiap menit kegiatan yang dilakukan dan lokasi mereka berada. Berkembangnya kebebasan terkadang dijadikan ajang untuk keluh kesah yang tidak jarang isinya menjadi makian yang menyakiti hari seseorang atau sebaliknya pujian yang menyenangkan hati. Kesimpulannya adalah semua orang bebas untuk ‘menjual diri-nya’ supaya mendapatkan suatu